Showing posts with label CERPEN DAN PUISI. Show all posts
Showing posts with label CERPEN DAN PUISI. Show all posts

Wednesday, 5 October 2016

Dalam asap hitam pekat
Yang hanya akan menjadi beban
Darah tangisan berhamburan
Nyawa manusia hilang melayang
Luluh lantah tanpa jiwa
Nurani di hati bersembunyi
Tanpa ada kedamaian, tanpa ada persatuan
         (*)   Bersatulah (unity for justice)
                Hilangkanlah (war in this world)
                Ciptakanlah (respect for all)
                Lets change for better future yeahh
Hey you mendekat dan dengarkan
Dengan alunan musik ini kan kuceritakan
Bukan fatamorgana spontanitas belaka
Inilah realita yang hidup berjalan
Peluru melesat dentuman menerkam
Membabi buta siapapun ikut ditelan
Hey kawan berapa dosa yang telah kau kumpulkan
Kuasa dunia takkan menjamin surga
Back (*)
Sejajar melangkah tak ada bencana
Ambil nuranimu tuk semua problema
Hapus deritamu tertawa bersama
Tak ada tahta yang membabi buta
Seperti rantai menggenggam bumi
Mencakar langit menerobos matahari
Erat bersatu ciptakan harmoni
Hapus amarahmu bersama bernyanyi
Back (*)
We are krupuk sambel hardcore
Say motherfucker for all war player
Lets change lets move
Together we are stranger

Monday, 21 March 2016

            Sore ini. Dikala semesta mulai meredupkan cahayanya. Aku menunggu. Sendiri termenung di kursi taman ini. Ya, kursi ini. Tempat dimana semua berawal dan mungkin menjadi tempat semua akan berakhir.
            1 tahun yang lalu
            “Dik, bangun dik! Heii!!” terdengar samar suara laki-laki yang membangunkanku. Aku kemudian mencoba membuka mata perlahan kemudian terperanjat melihat sekeliling. Mengapa aku ada di sini?
“Kenapa kamu tidur di sini? nanti dimarahi petugas hlo!” tegur laki-laki yang kulihat dia nampaknya masih muda dan dengan kemeja rapi serta sepatu mengkilatnya aku bisa menebak kalau dia adalah orang kaya, setidaknya lebih berkecukupan pikirku.
            Kepalaku masih terasa pusing. Kemudian aku mencoba perlahan-lahan mengingat. Kembali mengingat. Lama aku mencoba dan akhirnya aku ingat semuanya. Aku ingat malam itu. Akupun mulai menangis dan takut. Entah mengapa perasaan takut dan gundah kini mulai meresap kedalam pikiranku.
“Ada apa dik? Jangan takut, aku bukan orang jahat. Aku ingin menolongmu.” Terlihat dari tatapan matanya. Mungkin benar dia orang baik-baik. Tak seperti kerumunan laki-laki tadi malam. Ahh aku kembali mengingatnya. Tangisanku semakin membuncah.
            “Mari ikut aku!” Dia membawaku ke mobilnya. Mungkin dia tak merasa enak melihat pakainku yang sobek-sobek dan  terlihat mencuri perhatian kaum lelaki bernafsu tinggi seperti yang kujumpai tadi malam. Aku menurut karena aku bingung, takut dan tak tahu harus berbuat apa. Dia kemudian menutup tubuhku dengan jaketnya yang ditinggal di dalam mobilnya dan segera membawaku ke rumah sakit.
Dari dokter yang memeriksaku, dia tahu bahwa aku baru saja menjadi korban rudapaksa kaum lelaki tak bertanggung jawab. Dia sangat kaget. Tetapi, dia kemudian masuk ke ruanganku dan memberikan senyuman kepadaku.
            “Kenalkan aku Reno. Kamu siapa?” tanya dia singkat.
            “Diana” jawabku juga singkat dan samar.
            Kemudian dia bertanya dimana keluargaku dan rumahku. Aku menjelaskan bahwa aku pendatang baru di kota ini. Baru tiga bulan aku merantau di kota ini. aku berasal dari kampung. Jauh. Dan mulai hari ini mungkin aku tidak berani kembali pulang ke kampung dengan keadaan seperti ini. Aku juga mendapat pesan singkat dari bosku bahwa aku dipecat karena bolos kerja tadi malam. Sungguh mengerikan hidup di kota. Malang sekali aku.
Dia paham dengan keadaanku. Kemudian di menawariku bekerja sebagai pembantu di rumahnya.
            “Sungguh? Aku mungkin setelah ini akan hamil. Bekerja denganmu mungkin hanya akan membuatmu repot. Terimakasih untuk semua bantuannya dan mungkin cukup sampai disini saja.” Aku  merasa dia terlalu baik dengan orang yang baru dia kenal. Apalagi aku belum mengenalnya lebih dalam.
            “Tidak apa-apa diana. Aku akan membantumu.” Dia kembali tersenyum begitu manis dihadapanku.
            “Mengapa kamu begitu ingin membantuku?” tanyaku penasaran.
            “anti akan aku jelaskan, namun satu hal harus kamu tahu bahwa aku benar-benar tulus ingin membantumu Diana.” Kata-katanya yang begitu lembut dan terdengar tulus membuatku tak bisa menolak permintaannya. Aku juga suka dengan senyum manisnya. Begitu menyejukkan hati.
            Mulai hari itu aku tinggal dirumahnya yang tidak terlalu besar namun cukup mewah. Terlihat dari segala perabotan dan tata ruang yang modern. Juga bentuk rumah yang begitu menjadi idaman masa kini. Ini rumah baru pikirku.
            “Apakah kamu sudah membicarakan hal ini dengan istrimu?” tanyaku saat kami mulai melangkah menuju pintu rumah. Dia kemudian berhenti dan menatapku.
            “Aku belum beristri Diana. Aku masih sendiri. Untuk itulah aku perlu bantuanmu untuk merawat rumah baruku ini. Setahuku gadis kampung lebih giat dan rajin bekerja dibanding orang kota. Hehehe.” Jawabannya membuatku sedikit tersipu.
            Dia kemudian menjelaskan panjang bahwa dia adalah manajer termuda di perusahaannya dengan bayaran yang begitu mentereng. Dia tak mau menjawab mengapa dia tidak mempunyai istri atau setidaknya pacar dengan keadaannya yang cukup mapan ini.
             Jam berganti hari, hari berganti bulan, dan sudah hampir sembilan bulan aku tinggal di rumah Reno. Dia sangat baik. Begitu pula aku memperlakukannya sebagai majikan dengan baik. Dia terkadang membantuku mengurus urusan rumah mengingat keadaanku. Dia juga sering mengajakku berjalan-jalan tiap akhir pekan. Dari situ timbulah rasa cinta diantara aku dan Reno. Akhirnya setelah anakku lahir. Reno menikahiku.

            Kupikir setelah menikah hidupku akan menjadi lebih indah. Namun ternyata..

to be continued...

Monday, 31 August 2015


“Hai putih abu-abu!!” senyum Vera merekah di depan kaca kamarnya. Dia sangat mengidolakan seragam yang dipakainya sekarang. Seragam sekolah SMA. Sudah lama ia menanti masa ini. Gadis polos nun cantik ini akhirnya berhasil merasakan duduk di bangku salah satu SMA di Kota Bogor. Walaupun orang tua Vera tidak menyekolahkannya di sekolah favorit. Dia tetap bisa tersenyum lebar karena di masa inilah orang tua Vera mengijinkan anaknya lebih bebas memilih dunianya. Lagipula, orangtua Vera kini juga semakin sibuk degan urusan bisnis masing-masing.
Sampai di ruang kelas yang baru, Vera diam dan bingung. Teman-teman akrabnya sekarang bersekolah di sekolah favorit di Kota Bogor. Dia tidak punya teman. Akhirnya, dia melihat Noni masuk ke kelasnya. Teman satu sekolahnya saat SMP. Noni adalah cewek paling nakal dulu waktu SMP. Vera tidak begitu dekat dengannya.
“Ehh Vera, Lo sekolah sini juga? Kok nggak ikut temen-temen lo yang sekolah di SMA 1 Bogor?” tanya Noni yang tiba-tiba lari menghampiri Vera dan duduk di sebelahnya.
“Enggak, Non! Aku disuruh mamahku sekolah sini. Yaa aku nurut aja hehe!” Jelas Vera dengan menampakkan senyum cantiknya yang membuat Noni selalu iri sejak SMP.
“Yaudah tenang aja. Di sini gue mau kok temenan sama lo. Nanti gue kenalin sama temen-temen gila gue yang lain hehe!”

Vera akhirnya lega dia mendapat teman ngobrol di sekolah. Tapi dia juga sedikit khawatir berteman dengan Noni. Apakah akan berakibat baik atau buruk untuk kedepannya. Dia tahu persis kebiasaan Noni dan teman-temannya di sekolah. Bolos, urakan, suka bikin ulah semua sudah pernah dilakukan Noni dan gengnya. Namun Vera mencoba tidak menghiraukan hal tersebut. Yang penting berteman dengan Noni, dia bisa aman dari jajahan kakak kelas yang sama nakalnya.
Setahun berlalu. Vera semakin terbiasa dengan hal-hal gila yang dilakukannya bersama geng Noni. Vera tidak tahu apakah ini baik atau buruk. Tapi dia suka melakukannya. Orangtua Vera juga tidak pernah menghiraukannya, Dengan kebebasan yang diberikan orang tuanya, gadis polos ini sekarang sudah berubah menjadi gadis yang cenderung urakan.
Hal baru yang Vera dapat saat kelas 11 adalah “JATUH CINTA”. Lebih tepatnya jatuh cinta pada pandangan pertama. Adalah Eno, cowok keren yang duduk di kelas 12. Eno adalah cowok yang sama urakannya dengan Noni. Dia dan gengnya adalah kelompok yang paling ditakuti di sekolah.
Vera pertama kali bertemu dengan Eno di kantin sekolah. Saat itu, Eno sedang mengerjai anak kelas 10 yang sok jagoan. Anak itu melawan. Eno lalu mencoba memukul siswa baru kelas 10 tersebut. Tetapi siswa itu menghindari dan pukulan keras Eno malah mendarat persis di pipi sebelah kanan Vera. Vera sontak terjatuh dan pingsan. Dengan sigap Eno membawa gadis tersebut ke UKS sekolah sebelum suasana semakin riuh dan guru BK datang.
Beberapa menit kemudian, Vera sadar dan perlahan membuka matanya. Serasa kepalanya masih berat dan pandangannya kabur. Perlahan terlihat sesosok cowok yang telah dari tadi menunggu disebelahnya.
“Sudah sadar? Tetep buat tidur aja dulu! Masih pusing kan?” Ujar Eno yang daritadi cemas menunggu Vera. Dia sangat tidak enak hati pada Vera. Untuk itu dia menunggu Vera sampai sadar dan berniat untuk meminta maaf padanya.
“Kok gue bisa ada di sini?” tanya Vera yang baru saja tersadar dan bingung dengan keadaannya sekarang.
“Coba ingat-ingat lagi tadi lo tadi ngapain kok bisa sampai sini?” Tanya Eno.
“Gue inget! Tadi ada cowok yang mukul gue kenceeeng banget terus gue jatuh terus... gue nggak inget lagi.” Vera menjawab perlahan sambil berfikir.
“Gue pingsan ya?” Vera balik bertanya.
“Iya, lo pingsan gegara kena pukulan gue tadi. Untuk itu gue disini, gue mau minta maap banget sama lo. Gue nggak sengaja.” Eno menjelaskan dengan tatapan mata tajamnya dan menampakan senyuman yang membuat hati Vera serasa berdesir kencang. Vera tidak tahu perasaan apa ini. Serasa rasa sakitnya hilang tergantikan oleh senyuman dan wajah tampan Eno yang sedari tadi berada di hadapannya.
“Gimana dimaafin nggak? Kok malah bengong?” Tanya Eno.
“Heii! Kok malah neglamun?” Kata Eno lagi yang kali akhirnya membangunkan Vera dari lamunannya. Dia gugup dan sedikit menyembul warna merah dipipinya. Eno tersenyum lagi.
“Lo masih normal kan? Nggak jadi autis setelah kena pukulan gue kan? Heheh.” Canda Eno.
“Enggaklah! heheh”
“Iya gue maafin deh! Lain kali kasih rem tuh tangan biar kalo mukul meleset nggak kena ke orang lain! heheh” Vera membalas dengan guyonannya.
Mereka berdua kemudian terlibat omong kosong yang panjang di dalam UKS. Nampaknya Vera menemukan sesosok pria yang bener-bener nyambung dengannya selama ini, begitu pula dengan Eno. Dia merasa ada yang lain pada gadis ini yang membuatnya tertarik dan ingin terus berada didekatnya.
Sekitar setengah jam. Akhirnya mereka mengakhiri obrolannya dengan saling bertukar pin BB. Mereka keluar dari pintu UKS bersama-sama dan berpisah di depan kantor guru. Keduanya terlihat senyum-senyum sendiri saat diperjalanan menuju ke kelas masing-masing.
Setelah kejadian tersebut, hubungan Vera dan Eno semakin dekat dan akhirnya mereka berdua pacaran. Berpacaran dengan Eno membuat dunia Vera semakin bebas, dia kini sudah mengenal rokok dan miras gara-gara sering diajak Eno ke klub malam. Hingga pada suatu malam, Vera mabuk berat dan Eno membawanya ke sebuah hotel murah yang sering digunakan sepasang kekasih untuk bercumbu.
Setelah selesai check in di receptionist, Eno langsung menggendong Vera ke kamar nomor 124. Diletakkannya Vera secara perlahan oleh Eno. Vera kemudian setengah terbangun.
“Aduhh pusing banget yang!” eluh Vera.
“Yaudah kamu tidur disini dulu malam ini sama aku.” Jawab Eno dengan santai sambil melepas bajunya. Vera tak begitu menggubris Eno. Dia merasakan badannya sangat lemas.
“Ver! Kamu cantik banget deh malam ini.” ucap Eno yang terdengar samar di telinga Vera. Vera masih dalam keadaan pusing dan tidak sadarkan diri. Dia membiarkan Eno yang perlahan mulai melucuti pakaiannya dan menggerayangi tubuhnya.
Pagi itu Vera terbangun dan mendapati dirinya dalam keadaan telanjang di dalam kamar hotel sendirian. Terlihat jelas pula dimatanya bercak darah yang mengotori tempat tidurnya. Diapun baru sadar apa yang telah dia lakukan bersama Eno tadi malam. Dia kemudian menangis.
“Eno! Eno! Kamu dimana?” dia begitu menyesali perbuatannya tersebut. Dia menangis di dalam kamar mandi sambil membasahi seluruh tubuhnya yang sudah dinodai oleh kekasihnya.
Setelah seminggu bolos sekolah karena kejadian tersebut. Vera kembali masuk sekolah dan mencari Eno.
“Apa? Eno keluar dari sekolah?” Vera terkejut.
“Iya Ver! Dia pindah ke Makassar sama bokapnya. Emang nggak bilang sama lo?” Jelas Noni.
“Enggak Non! Terus gimana dengan nasib anak yang ada di kandungan gue nanti?” Vera mulai meneteskan air mata.
“Apa? Anak? Lo tidur sama Eno? Gila kamu Ver. Kenapa ngak cerita sama gue dari kemarin! Kan gue bisa cegah itu bajingan buat kabur.” Noni terlihat sangat kaget mendengar berita dari Vera.
Vera kini semakin bingung. Diapun tidak berani untuk kembali pulang kerumah. Selama satu minggu dia menginap di rumah Noni. Sampai pada suatu hari, orangtua Vera menemukan rumah Noni dan memarahi Vera. Vera menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dan akhirnya membuat kedua orangtuanya sangat kaget. Orangtua Vera akhirnya membawa vera pulang dan  membicarakan hal tersebut di rumah.
“Kenapa nak? Kenapa bisa terjadi? Kenapa kamu melakukan itu?” Tanya Ayah Vera bertubi-tubi.
“Maafin Vera yah! Vera salah! Vera bener-bener terjerumus ke jalan yang salah.” Vera kembali meneteskan airmatanya. Ibu Vera pun juga ikut menangis dan tak mampu mengatakan sesuatu.
“Terus sekarang mau bagaimana lagi? Kamu akan hamil tanpa seorang suami? Tanpa ada yang bertanggung jawab?” Tampak diwajah ayah Vera yang begitu kesal dan bingung.
“Vera juga gak tau ayah! Vera juga bingung!” Jelas Vera.
“Yasudahlah! Ini sebenarnya juga salah ayah nak! Ayah dan ibu terlalu membebaskanmu saat SMA. Ayah sama Ibu terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan tanpa pernah memperhatikanmu. Sekarang kamu besarkan anakmu itu. Jangan kamu gugurkan. Kamu keluar saja dari sekolah dan cari pekerjaan!”
Sebuah kehidupan yang sangat sulit akhirnya harus segera ditempuh oleh Vera. Dia harus membesarkan anaknya seorang diri tanpa kehadiran suami dan berhenti bersekolah. Vera yang dua tahun lalu begitu polos dan berprestasi serta sangat membanggakan orangtua, kini hidupnya berubah 180 derajat karena dia salah memilih jalan hidupnya ketika SMA. Namun semua telah terjadi. Andai waktu bisa berputar kembali. Mungkin Vera tidak mau mendapati dirinya menjadi seperti ini.


Thursday, 18 December 2014

ANDAI WAKTU BERPUTAR KEMBALI

           “Hai putih abu-abu!!” senyum Vera merekah di depan kaca kamarnya. Dia sangat mengidolakan seragam yang dipakainya sekarang. Seragam sekolah SMA. Sudah lama ia menanti masa ini. Gadis polos nun cantik ini akhirnya berhasil merasakan duduk di bangku salah satu SMA di Kota Bogor. Walaupun orang tua Vera tidak menyekolahkannya di sekolah favorit. Dia tetap bisa tersenyum lebar karena di masa inilah orang tua Vera mengijinkan anaknya berpacaran.

Sampai di ruang kelas yang baru, Vera diam dan bingung. Teman-teman akrabnya sekarang bersekolah di sekolah favorit di Kota Bogor. Dia tidak punya teman. Akhirnyan, dia melihat Noni masuk ke kelasnya. Teman satu sekolahnya saat SMP. Noni adalah cewek paling nakal dulu di SMP. Vera tidak begitu dekat dengannya.

“Ehh Vera, Lo sekolah sini juga? Kok nggak ikut temen-temen lo yang sekolah di SMA 1?” tanya Noni yang tiba-tiba lari menghampiri Vera dan duduk di sebelahnya.
“Enggak, Non! Aku disuruh mamahku sekolah sini. Yaa aku nurut aja hehe!” Jelas Lisa dengan menampakkan senyum cantiknya yang membuat Noni selalu iri sejak SMP.
“Yaudah tenang aja. Di sini gue mau kok temenan sama lo. Nanti gue kenalin sama temen-temen gila gue yang lain hehe!”

Vera akhirnya lega dia mendapat teman ngobrol di sekolah. Tapi dia juga sedikit khawatir berteman dengan Noni. Apakah akan berakibat baik atau buruk untuk kedepannya. Dia tahu persis kebiasaan Noni dan teman-temannya di sekolah. Bolos, urakan, suka bikin ulah semua sudah pernah dilakukan Noni dan gengnya. Namun Vera mencoba tidak menghiraukan hal tersebut. Yang penting berteman dengan Noni, dia bisa aman dari jajahan kakak kelas yang sama nakalnya.

Setahun berlalu. Vera semakin terbiasa dengan hal-hal gila yang dilakukannya bersama geng Noni. Vera tidak tahu apakah ini baik atau buruk. Tapi dia suka melakukannya. Dengan kebebasan yang diberikan orang tuanya, gadis polos ini sekarang sudah berubah menjadi gadis yang cenderung urakan.
Hal baru yang Vera dapat saat kelas 11 adalah “JATUH CINTA”. 

bersambung...

BAGAIMANA
Termenung....
Hanya itu yang hinggap kini
Suara jangkrik yang menjadi tuan
Mengiang di pikiran
Lama tak ada jemputan
Hatiku tertahan...
Tak mampu mengangkat beban
Gelap dan jauh dari gerbang
Campur aduk tak tenang

Dahulu...
Aku rindu saat itu
Namun aku juga takut saat itu
Berdiri tegap menantang saat itu
Membongkar tembok raksasa china saat itu
Tapi buram, masih ada titik hitam
Masih ada batu kokoh yang menghadang

Bagaimana...
Bagaimana aku menemukan
Hirupan udara segar di depan
Warna biru langit dipandang

Tanpa noda yang suit menghilang

Friday, 14 November 2014

TETAP DI HATI
“Selamat datang di Universitas Diponegoro!” Teriak Nando persis di depan telingaku. Aku yang kaget langsung menepuk punggung Nando dan memarahinya,“Sialan, lo! Lo mau bikin temen paling tampan lo ini budek  ya?” Sambil tertawa Nando menjawab “Ya maap! Ehh sejak kapan lo tampan, boy? Lo kan anak cupu yang kesasar masuk kampus ini.” Kami tertawa, aku kejar Nando sampai ruang kelas.
Kenalkan namaku Diki tapi sering dipanggil Boy oleh  teman-temanku. Hari ini adalah hari pertama diriku memijakkan kaki di perguruan tinggi idolaku ini. Butuh perjuangan keras untuk sampai di sini. Untuk itu aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Harus banyak menimba ilmu demi melihat orangtuaku bangga esok hari.
Berhari-hari aku jalani kehidupan di kampus. Suasana di kantin kampus tak pernah berubah, selalu ramai. Namun pada suatu hari. Di sela-sela hiruk pikuk kantin. Pandanganku hanya tertuju oleh seorang gadis berkulit putih, rambut panjang bergelombang dan berwajah manis yang duduk di bangku kantin paling pojok. Semakin lama aku menatap, hatiku semakin berdegup kencang. Entah apa yang kurasakan. Perasaan apa ini?
“Woe!” Lagi-lagi Nando yang datang dari belakang mengagetkanku. Dengan raut muka kesal aku kembali memarahinya,“Elo lagi! Lo emang nggak kasihan ya sama jantung gue?”
“Habisnya lo dipanggil dari jauh nggak denger-denger sih, Boy. Lagi sibuk ngeliatin apa sih?” Nando mulai penasaran dengan tingkah lakuku yang kembali fokus ke gadis tersebut.
“Yaelahh! Lo naksir sama Nana ya?”
“Nana? Nana siapa?” Aku balik bertanya ke Nando.
“Iya, cewek yang lo liatin terus itu kan Nana. Temen satu SMA kita dulu. Dia dulu orangnya memang pendiam. Jadi dia nggak terlalu terkenal di sekolah. Cantik-cantik putri malu. Itu julukan buat dia waktu SMA. Masak lo nggak tau, Boy?”  
Aku hanya bungkam mendengar omongan Nando. Dalam hati aku berfikir. Betapa bodohnya diriku, ada bidadari cantik satu SMA tapi aku nggak tahu sama sekali waktu itu. Pukul 09.00 WIB jam pelajaran di mulai. Aku dan Nando kemudian pergi meninggalkan kantin dan bergegas menuju ke kelas.
Memasuki tiga bulan masa kuliah, suasana berubah ketika musim hujan datang lebih awal daripada biasanya. Hawa dingin di kampus sore itu mulai merasuk ke dalam tubuhku. Aku mulai berlari menuju ke parkiran.
“Aduhh lupa bawa mantel lagi! Terpaksa nunggu sampai hujannya reda kalo gini caranya.” Sekitar setengah jam aku berdiam diri di parkiran kampus sendirian. Sambil bertanya-tanya dalam hati kapan air dari langit ini akan berhenti turun ke bumi. Dan tiba-tiba terdengar suara manis seorang gadis memanggil namaku.
“Nggak bawa mantel ya, Dik?”
Suaranya begitu manis menyentuh hatiku. Segera kutolehkan pandanganku mencari asal suara tersebut. Betapa kagetnya diriku ketika tahu bahwa yang bertanya kepadaku adalah Nana.
“Hei! Kok malah bengong sih, nanti kesambet loh!” Seru Nana yang membuat aku menjadi gelalapan. Aku jadi salah tingkah. Serasa ingin melontarkan kata tapi tak sanggup aku lakukan. Ada apa aku ini?
“Hahaha! Ngga usah gugup kek gitu kali, Dik! Kayak liat artis aja.” Senyuman Nana yang begitu manis membuat hatiku semakin bergetar. Nampaknya wajahku yang memerah membuat Nana tahu kalau aku sedang gugup sekarang.
“Ehh.. Enggak kok, Na!” Jawabku singkat dengan muka tertunduk.
Suasana kemudian hening sejenak. Kemudian aku memberanikan diri untuk membuka percakapan. Masih dengan rasa gugup tapi aku mencoba memperlihatkan jiwa laki-lakiku.
“Kamu Putri Malunya SMA 3 dulu ya?”
“Iya, tapi dulu. Sekarang mah udah bukan Putri Malu lagi. Aku ikut organisasi di sini. Organisasi yang membuatku berubah menjadi lebih berani bicara dan berpikir dewasa. Bosan kali jadi anak pemalu terus, hehe!” jawab Nana panjang, kemudian dia lanjut bertanya.
“Ehh kamu ngga berubah ya, Dik? Masih takut kalo ketemu sama cewek?” Nana balik bertanya ke aku masih dengan senyuman manisnya. Ternyata dia kenal aku waktu SMA dulu.
Kalau Nando mengatakan aku ini adalah anak cupu. Itu sebenarnya memang fakta. Aku dari dulu tidak pernah berani dekat dengan yang namanya perempuan. Beraninya hanya melihat perempuan dari kejauhan tanpa mengenali siapa dia.
Aku hanya terdiam tanpa menjawab pertanyaan Nana. Nana kemudian kembali berkata. Kali ini perkataannya membuat aku lebih terkejut lagi.
“Ini masih deres banget, Dik. Ayo bareng aku aja. Aku ada mantel ini buat berdua. Sepeda motormu titipan Pak Satpam aja! Kosmu kan juga bersebelahan sama punyaku.”
Dalam pikiranku, ini beneran apa cuma mimpi? Kenapa aku nggak tahu ternyata kos Nana deket sama kos-kosanku? Kenapa Nana malah tahu? Bodoh sekali diriku. Kali ini, gadis cantik yang selalu membuat jantungku berdebar berdiri di depanku. Menawarkan untuk berboncengan denganku. Tanpa pikir panjang, aku mengeluarkan kata yang sebenarnya tidak ingin aku katakan tapi hatiku benar-benar ingin melakukan.
“Oke, ide bagus itu!”
Sebenarnya aku malu mengatakan hal tersebut. Ingin aku memutar ulang waktu. Tapi bagaimana lagi, nasi telah menjadi bubur. Akhirnya, untuk pertama kalinya aku merasakan bagaimana rasanya berboncengan dengan seorang gadis. Di perjalanan Nana terus bercerita. Aku terkadang hanya tertawa kecil mendengarkan ceritanya.
Setelah kejadian itu, akhirnya kami memutuskan untuk pulang pergi ke kampus sama-sama. Kami akrab dengan cepat. Aku juga sering mengantarkan Nana membeli barang keperluan Nana, begitu pula sebaliknya. Tidak ada lagi rasa grogi, yang ada sekarang adalah rasa nyaman. Tanpa disangka, kami ternyata memiliki banyak sekali kesamaan. Mulai dari makanan, warna kesukaan, musik, dll. Sampai pada akhirnya aku merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya. Jatuh cinta kepada gadis manis, cantik, dan baik hati. Itulah Nana.
Pada salah satu malam minggu di bulan April aku jadian dengan Nana. Betapa bahagianya hari-hariku kulewati dengan cinta pertamaku. Jatuh cinta memang membuat hidup serasa lebih berwarna. Berharap dia yang akan menjadi pelabuhan pertama dan tekahirku. Nana adalah gadis yang paling dewasa yang pernah aku temui. Dia paham betul tentang diriku. Semakin hari aku semakin nyaman berada didekatnya, begitu pula sebaliknya.
Tak terasa kami sudah berjalan satu tahun. Suka duka telah kami lewati bersama. Namun hal buruk akhirnya datang sesaat setelah Nana meniup lilin kue our first anniversary di rumahnya. Hidung Nana mengeluarkan darah.
“Loh, say! Hidungmu kenapa ngluarin darah?”
Nana kemudian mengusap darah di hidungnya dan tiba-tiba dia pingsan.
“Nana sayang! Bangun, na! Ada apa kamu?”
Saat itu rumah sepi. Hanya ada aku dan Nana. Tanpa pikir panjang aku langsung membawa Nana ke rumah sakit. Sampai di rumah sakit dokter langsung dengan sigap memeriksa kondisi Nana. Setelah memeriksa, dokter membawaku menuju ke ruangannya. Dia menyodorkan selembar kertas kepadaku. Dengan perasaan tegang dan gugup aku coba membacanya perlahan.
“Kanker Otak! Stadium Akhir!” aku berteriak melihat tulisan itu.
“Iya. Sebenarnya penyakit ini sudah lama diderita Nana. Tapi dia enggan diobati lebih serius dan meminta untuk merahasiakannya ke orang lain termasuk kamu dan orangtuanya.”
“Apa dia bisa sembuh, Dok?”
“Sangat kecil kemungkinan untuk dia selamat.”
Aku keluar ruangan dalam dengan muka lesu. Aku lihat kedua orantua Nana kini berada dalam ruangan melihat kondisi Nana. Sebenarnya aku sering melihat Nana pusing, jatuh sendiri ketika berjalan, dan mimisan tapi tidak sampai pingsan. Tetapi setiap aku suruh dia berobat, dia tetap tidak mau dan berkata kalau dia baik-baik saja. Ya Allah, mengapa engkau beri kekasihku cobaan seperti ini. Saat aku benar-benar bahagia dengannya. Saat  aku mantap ingin segera menikahinya. Hari itu hujan sangat deras. Seakan-akan tahu apa isi hatiku. Aku sangat terpukul dengan keadaan ini, begitupun dengan orangtuanya. Aku tidak ingin kehilangan cinta pertamaku.
Hari-hari berikutnya aku temani Nana untuk mendalami kemoterapi. Aku menjaga Nana 24 jam tanpa mempedulikan kondisiku. Yang terpenting adalah kesembuhan Nana. Aku yakin dia bisa sembuh. Nana juga yakin walaupun kulihat keadaannya semakin hari semakin parah. Orangtua dan teman-teman Nana juga sering menjenguknya, memberi motivasi untuk Nana. Tapi kini aku lihat Nana tinggal tulang dibungkus kulit. Wajahnya layu dan berkeriput. Hingga suatu malam Nana mengajakku untuk menuju ke taman Rumah Sakit.
“Dik, terimakasih ya buat semuanya. Kamu orang paling baik yang pernah aku kenal.” Nana berbicara dengan nada pelan.
“Iya Nana sayang. Kamu juga orang paling cantik, baik, sopan, pinter, pokoknya apa aja deh. Jadi kamu harus tetep kuat ya. Kamu pasti bisa sembuh.” Jawabku sambil menahan tangis yang sebenarnya ingin aku keluarkan sejak tadi.
“Dik, kamu baik-baik ya. belajar yang bener. jangan kecewain orangtuamu.”
Entah kenapa aku merasa aneh. Kenapa Nana berbicara seperti itu. Rasa sesak dihatiku kian menggebu. Aku bertanya-tanya kepada Tuhan. Apakah ini sudah tiba saatnya engkau mengambil Nanaku? Aku pasrah dengan semuanya Ya Allah.
“Dik, aku lelah. Aku pinjem bahumu buat tidur boleh nggak?” pinta Nana kepadaku.
“Oke, 5 menit saja yaa?” tawarku ke Nana.
Sudah lebih dari lima menit. Aku coba bangunkan Nana. Tapi dia tidak bangun-bangun. Aku lihat wajahnya kali ini berbeda. Tampak bercahaya dan tenang. Air mata perlahan mulai membanjiri pipiku. Ini benar-benar sudah berakhir. Nana benar-benar pergi jauh. Meninggalkanku menuju dimensi lain. Kenapa secepat ini Ya Allah?
Berat bagiku, berat pula bagi orangtua Nana. Aku tidak akan pernah melupakan Nana. Cinta pertamaku. Dia akan tetap hidup di hatiku. Di lubuk hati yang paling dalam.
“Semoga kamu tenang disana, Na!”


Thursday, 6 November 2014

       Namaku Surya, aku siswa kelas 11 SMK Negeri 1 Jambu. Ramadhan tahun ini aku ditunjuk guruku untuk mengikuti Pesantren Kilat Tingkat Nasional SMK Tahun 2013 (SANLATNAS SMK 2013) di Bogor, tepatnya di Wisma Haji Ciloto. Memang sebuah kebanggaan bagiku untuk bisa mewakili Kabupaten Semarang di tingkat nasional. Mengingat pengetahuanku tentang agama Islam masih sangatlah minim, ini adalah kesempatan untuk lebih banyak memetik ilmu berpahala yang luar biasa di sana. Namun, tanggung jawabku begitu besar untuk membawa nama baik sekolahku dan daerahku. Setidaknya aku harus bisa lebih aktif walaupun minim ilmu.
       “Tidak! Kamu tidak usah ikut! Kamu kan pendiam, pemalu, penakut, dan mudah sakit pula. Takutnya nanti kamu kenapa-napa disana.”Malam itu, ayahku dengan tegas tidak memperbolehkanku untuk mengikuti kegiatan ini. Aku bersikeras menentang kebijakan ayahku,”Tapi itu kan aku yang dulu, Pah! Sekarang aku sudah berubah menjadi laki-laki kuat. Ketua OSIS yang disegani guru dan teman-teman sekolahku. Ini kesempatanku membawa nama sekolahku di tingkat nasional. Selain aku, tidak ada siswa yang mau menyanggupinya”. Suasana hening sejenak, kemudian aku melanjutkan pembicaraan dengan nada yang sudah mulai kesal,”Sekali lagi jangan samakan Surya yang SMP dengan Surya yang sekarang sudah SMK!”
       Ayahku yang selalu tegas dengan keputusannya benar-benar membuatku putus asa malam itu. Pagi harinya, aku bilang ke guruku bahwa aku tidak jadi ikut lantaran tidak ada ijin dari orang tua. Kali ini, guruku yang bersikeras untuk memberangkatkanku,”Sini, biar saya yang coba ngomong ke ayahmu. Semoga ayahmu bisa berubah pikiran setelah berbicara dengan pak guru,” dengan suasana hati yang masih kesal aku memberikan nomor telepon ayahku.
“Ayahku memang orang yang tak kenal kompromi kalau sudah menyangkut urusan anaknya, Pak! Dia sangat khawatir kalau anaknya berada jauh darinya.” Jelasku ke pak guru sebelum beliau menelpon ayahku. Sedikit rasa pesimis yang aku rasakan saat pak guru mulai menekan tombol handphonennya.
       Pak guru mulai bicara dengan ayahku. Aku mendengar dengan begitu cemas. Di salah satu pembicaraan, aku mendengar kalimat yang begitu membuat lega hatiku.
“Maaf Bapak saya hanya memberi saran, mau sampai kapan bapak bersikap seperti ini? Anak anda sudah dewasa dan sudah saatnya bagi dia untuk terbang melihat warna-warni kehidupan. Supaya dia tahu seberapa keraskah dunia ini sebenarnya. Sudah bukan waktunya lagi untuk memanjakan anak anda, Pak!” jelas Pak Guru.
“Iya benar sekali, Pak Guru! Saya tidak menyadari hal ini sebelumnya. Terimakasih atas saran dari Pak Guru. Kalau begitu saya ijinkan anak saya berangkat ke Bogor.” Tidak lama kemudian mereka mengakhiri pembicaraan dan aku jadi ke Bogor.
-     
       Aku berangkat menuju Wisma Haji Ciloto bersama rekanku  Zaki dari SMK N 1 Tengaran. Sahur dan buka bersama ala kadarnya kami lakukan di dalam bus. Sesekali kami mengobrol tentang kehidupan kami masing-masing. Zaki adalah ketua osis SMK N 1 Tengaran. Gaya bicaranya ada dua, kadang kocak tapi juga bisa bijak. Dia selalu mengatasi segala urusan dengan tenang. Pantas kalau dia dipilih untuk menjadi pemimpin disekolahnya.
       Jam 04.45 kami tiba di Wisma Haji Ciloto. Berada di puncak memang tak terhindarkan dari sapuan udara yang dingin. Kami datang paling awal dan panitiapun belum datang. Disana kami bertemu wakil dari Kabupaten Sragen serta Kebumen yaitu Teguh, Arizal, Agus dan Ismi.
       Jam 09.00 kami berlima masuk ke Wisma dan melakukan registrasi ulang. Kami langsung menuju ke kamar untuk beristirahat. Ismi memisahkan diri karena dia peserta perempuan, tidak mungkin satu kamar dengan aku, Zaki, Teguh, Rizal, dan Agus. Dikamar kami bercerita tentang diri kami masing-masing. Sesekali banyolan keluar dari mulut kami. Sungguh bahagianya diriku saat itu bisa bersama dengan siswa-siswa pilihan yang pastinya mereka memiliki sikap dan mental yang luar biasa. Saat itu, aku memang masih sedikit canggung ketika mereka berbicara tentang agama. Aku hanya ikut mendengar apa yang mereka bicarakan. Jam 13.00 WIB tiba dan acara dimulai.
       Setelah upacara pembukaan, pembagian jadwal kegiatan dimulai dan kami langsung mengikuti kegiatan sesuai dengan jadwal satu per satu. Ada banyak kegiatan yang menarik di sini. Yang pertama pada sesi diskusi, aku bertemu dengan Agus. Pemuda asal Pontianak. Dia adalah anak dari keluarga sederhana dengan impian yang luar biasa. Agus adalah anak yatim piatu dan bersekolah di sekolah yang kurang maju. Sikapnya yang simpel dan pandai bergaul yang membuat aku suka padanya.
       Yang kedua saat shalat berjamaah, aku sering mendengar suara adzan pemuda dari Pekan Baru yaitu Mardah Jaelani alias Ajay. Lantunan tenang nan merdu persis dengan sikapnya saat dia berbincang-bincang denganku. Yang ketiga saat sesi permainan saya melihat seorang pemuda nan bijaksana dari Medan, abang Faza Fairuz. Dia sangat cerdas dalam berpendapat dan mengambil keputusan. Dan masih banyak lagi orang-orang hebat yang aku temui di sana.
       -
       Tiba di ujung acara yaitu upacara penutupan sekaligus pengumuman peserta terbaik SANLATNAS SMK 2013. Akhirnya temanku dari kebumen Agus yang mendapat predikat tersebut bersama teh Cici dari Bandung. Sangat sedih rasanya harus berpisah dengan kawan-kawan hebatku. Dalam pikirku sekarang, pastinya banyak pelajaran yang aku petik dari sini yang akan aku kembangkan di sekolahku nanti.
       Suasana menegangkanpun dimulai saat perjalanan akan pulang. Aku berangkat pulang bersama Zaki, Teguh, Agus, dan Rizal. Kami benar-benar bingung harus melangkah kemana saat itu karena kami tidak mengiyakan saran panitia untuk ikut teman lainnya naik pesawat terbang dari Jakarta. Niatan kami untuk jalan-jalan dulu di Bangdung kamu urungkan karena ternyata kami semua buta pengetahuan mengenai jawa barat. Kami akhirnya sibuk mengorek informasi dari warga bagaimana caranya untuk sampai ke terminal. Berputar-putar di wilayah ciloto sore hari selama satu jam. Akhirnya kami menemukan terminal. Tiketpun segera kami pesan. Satu jam kemudian Bus Rajawali yang sudah kami pesan akhirnya datang. Sebelum kami langkahkan kaki ke Bus. Kami sempat berpelukan erat terlebih dahulu. Entah kenapa aku merasa sedih disini, berat rasanya berpisah dengan orang-orang hebat ini.
       Sekitar waktu subuh, akhirnya aku sampai di Terminal Bawen. Aku turun dari bus dan dalam hitungan detik Bus Rajawali kembali berjalan membawa sahabat-sahabat hebatku melangkah keluar dari terminal. Sebuah kenangan yang indah. Terimakasih Ya Allah telah kau hadirkan teman dan kegiatan ini untukku. Benar-benar tidak akan pernah aku lupakan Wisma Haji Ciloto, tempat kami bersatu. Para generasi muda yang bertakwa, yang dengan segala sikap hebatnya.

Aku berharap mereka semua kelak benar-benar akan menjadi orang-orang yang berguna bagi orangtua, bangsa dan negara, sukses di dunia maupun akhirat.  

Thursday, 23 October 2014

D I ATAS KUBERNAFAS

            Latihan dasar kepemimpinan (LDK) dimulai. Tahun ini, LDK anggota OSIS, PRAMUKA, dan KOPASKI (OSPRAMKI) SMK Negeri 1 Jambu dipusatkan di lereng Gunung Ungaran. Tepatnya, kami akan bermalam di perkampungan Perumasan sebagai base camp kami sebelum mencoba menakhlukkkan puncak Gunung Ungaran. Berbekal pengalaman dan didikan dari pembina, aku bersama para senior mencoba menempa calon anggota OSPRAMKI dengan maksimal di sini dan membentuk mental serta fisik mereka. Menciptakan generasi muda yang takwa, tanggap, tanggon, dan trengginas.
Disini aku berposisi sebagai komandan satuan. Berada di tingkat paling atas. Akulah yang bertanggungjawab penuh atas kegiatan ini. Teriakan panjang aku mulai untuk membangkitkan semangat siswa LDK,“SISWA!!”
“SIAP!!” Balas mereka dengan tegas menandakan mereka benar-benar siap dan semangat mengikuti kegiatan ini.
“Tiga hari kedepan, kita akan mencoba menguasai gunung ungaran. Saya ingin melihat seluruh tapak kaki kalian berada di puncak gunung ungaran. Kerahkan seluruh tenaga kalian. Semangat kebersamaan serta doa menjadi modal awal kalian untuk menyelesaikan misi ini. Barang siapa yang tidak siap. Bisa mundur mulai sekarang. Daripada nanti gugur di medan laga. Saya tidak ingin melihat siswa yang lemah. Semua siswa harus tangguh, kuat, dan trengginas. Apakah kalian sanggup?”
“Siap sanggup” jawab siswa LDK serempak.
            Sedikit motivasi saya berikan ke siswa LDK agar mereka benar-benar siap untuk menjalankan tiga hari yang akan terasa satu tahun bagi mereka. Perjalanan kita mulai dari pos mawar. Walaupun saat itu sudah menginjak sore hari, namun semangat pagi para siswa LDK masih sangat luar biasa.
“Ayo semuanya menyanyi” teriak Kak Novia kepada seluruh siswa LDK.
Nyanyian serta teriakan menjadi makanan pokok seluruh siswa LDK. Dua jam berlalu dan kami masih belum sampai.
“kak sudah nggak kuat lagi kak!” teriak Sarah, salah satu siswa LDK perempuan yang wajahnya tampak pesimis, mukanya pucat karena sudah kecapekan. Danton siswa LDK yaitu Tri Wahyu mencoba memberi semangat. Begitu pula dengan senior,“ayolah dik, kita sudah hampir sampai. Jangan buat perjalanan kita sia-sia, sudah sampai sini kita harus terus maju. Jangan pikirkan kata menyerah. Tapi pikirkan saja besuk kita pasti bisa berada di puncak itu” tegas diriku sambil menunjuk pucuk Gunung Ungaran. Motivasi dengan gigih aku berikan bersama senior lainnya agar para siswa LDK tetap semangat.
            Pukul 18.30 WIB kami sampai di perumasan, kami langsung berinisiatif mendirikan tenda agar barang bawaan bisa langsung diamankan. Selanjutnya, shalat dan makan malam atau sering disebut dengan ISOMA (Istirahat, shalat, makan).
Seluruh kegiatan di sini diatur oleh waktu yang sangat mendesak, ini untuk melatih kediplinan, kebertanggungjawaban, dan kesiapan mental serta fisik mereka. Ketika makan mereka hanya diberi waktu seratus hitungan untuk menyelesaikan makanannya. Tidak menutup kemungkinan banyak siswa yang tidak sanggup melahap semua makanan. “Sudah kenyang semua?” tanya kak Andri setelah seratus hitungan selesai dilakuakan.
“Siap sudah” jawab siswa serentak.
“Hei Siswa Pipit! Kenapa nasinya tidak dihabiskan. Nasi itu adalah nasi pemberian rakyat. Kalian enak hanya tinggal memakannya. Kalian tidak membayangkan betapa susahnya para petani untuk menghasilkan satu butir nasi ini. Mereka rela bermandi lumpur setiap hari. Apakah kalian tidak kasihan? Oke, sekarang semuanya bantu Siswa Pipit untuk menghabiskan makanannya. Pokoknya saya tidak mau melihat segelintir nasi di piring kalian. Jelas!”
“Siap jelas!” teriak siswa serempak. Walaupun dengan tangisan, siswa pipit yang dibantu teman-temannya langsung melahap nasi yang belum habis.
            Kak andri memang senior yang paling galak diantara senior lainnya. Apabila perintahnya tidak diindahkan. Hukuman berat pasti diterima oleh para siswa. Seperti itulah kurang lebihnya mereka ditempa selama 3 hari dua malam di sini. Metode hitunga cepat jug adipraktekkan dalam kegiatan lainnya. Jadwal padat diberikan senior agar setelah keluar dari LDK ini seluruh siswa LDK benar-benar membawa banyak bekal berharga dan sesegera mungkin bisa mereka praktekkan ilmu yang mereka dapatkan nantinya.
            Sebenarnya, pada malam pertama kami akan langsung melaksanakan pendakian. Namun karena pada malam itu kondisi pasca hujan lebat dan kabut yang tak kunjung hilang. Kak Agusti yang paling berpengalaman dalam hal ini memutuskan untuk menunda pendakian,“Mohon ijin komandan! Malam ini kita semua tidur di perumahan saja, kosongkan tenda untuk menghindari hujan susulan. Pendakian kita lakukan besuk pagi saja mengingat cuaca yang tidak mendukung. Apakah komandan setuju?” Ujar Kak Agusti yang terkenal teguh dengan pendiriannya.
“Baik saya setuju, saya juga melihat kondisi fisik siswa yang sangat buruk. Sangat beresiko jika kita melakukan pendakian malam ini. Provos segera amankan tenda dan siswa, bawa mereka semua ke rumah warga!” aku memerintahkan Danprov Ahmad Fauzi untuk mengkondisikan siswa LDK. Malam itu mereka tidur berdesakan di dalam satu rumah bersama kami para senior. Sebuah situasi yang mendesak mengingat kondisi tenda yang bocor akibat hujan lebat malam itu.
            Pagi hari tiba dan sesuai dengan rencana, kami semua akan melaksanakan pendakian. Para senior pagi itu sedang sibuk mengecek persiapan siswa LDK. Setelah berdoa kita langsung berangkat menuju ke puncak.
“Kira-kira beraja jam untuk kita bisa sampai ke puncak, Kak Agusti?” tanyaku ke Kak Agusti di tengah-tengah perjalanan.
“Kurang lebih dua jam ndan! Jalannya terjal dan berkelok-kelok, jadi kita hati-hati saja.” Jawab Kak Agusti dengan nafas yang tersengal-sengal setelah mencoba menaiki batu besar.
            Nyanyian yel-yel dari siswa LDK dan suasana cerah nan sejuk mengiringi perjalanan kami. kebersamaan para siswa juga luar biasa. Uluran tangan senantiasa dilakukan disepanjang perjalanan. Dengan diselimuti oleh udara dingin. Kami tetap dengan kokoh berjalan menuju ke puncak gunung. Langkah demi langkah. Keringat terus mengalir namun semangat tidak akan pernah tersingkir.
            Sekitar jam sebelas kami berhasil menapakkan kaki di puncak gunung ungaran. Syukur alhamdulillah, tidak ada kesulitan yang berarti saat kami mendaki tadi. Raut muka lelah berubah menjadi sumringah. Tri Wahyu sebagai danton siswa LDK sangat gembira. Tetes air mata tarlihat muncul dan mengalir di wajahnya. Dia kemudian berteriak,“Allahu Akhbar!! Indahnya Indonesiaku. Kita berhasil kawan-kawan. Memang bukan misi yang mudah kalau dibayangkan. Tapi sekarang kita benar-benar berada di puncak. Kita menang. OSPRAMKI SMK Negeri 1 Jambu!!”
“Solidarity Forever Yes...” teriak seluruh siswa LDK dengan semangatnya. Keadaan ini membuat senior terharu tak terkecuali diriku. Semoga semangat ini akan terus melejit dalam diri mereka dalam mengemban tugas dan amanah mereka. Dengan lantang kuberucap,“Seluruhnya dengarkan! Di atas puncak ini kita bernafas, siap menghirup udara segar sesegar masa depan kami. Melepas udara kotor sekotor kegagalan. Kita siap menjadi generasi muda yang takwa, tanggap, tanggon, dan trengginas. SISWA!!”
 “SIAAAAPPP”

  

Monday, 25 August 2014

                                    MIMPI

“MIMPI”, Sebuah kata yang selalu teringat dalam benak Vino. Dia yakin dengan terus bermimpi, kelak dia akan menjadi orang besar seperti apa yang telah digambarkan dalam mimpinya. Menurutnya, mimpi membawanya untuk terus melangkah maju mengikuti arah menjulang setinggi langit di angkasa. Saat kecil, tergambar sangat indah di dalam mimpinya untuk menjadi seorang astronot yang kelak akan memijakkan kakinya di luar angkasa yang sangat luas hasil ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa.
Tetapi, dia hanya bermimpi. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan untuk bisa menjadi seorang astronot. Kemudian dia mulai bertanya-tanya kepada setiap orang bagaimana untuk bisa menjadi seorang astronot. Dan jawaban dari setiap orang yang akhirnya membuat mimpinya meredup. Betapa sulit dan mahalnya menjadi seorang astronot, begitu pikirnya saat itu. Dengan keadaannya saat itu, sangat tidak memungkinkan baginya untuk menjadi seorang astronot. Apa yang harus dipelajari oleh seorang astronot juga terasa sulit baginya.
Menginjak usia SMP. Dia mencoba bermimpi lebih sederhana dengan menjadi seorang pesepakbola profesional di negeri tercinta, Indonesia. Negara yang sangat menjunjung tinggi olahraga sepak bola namun miskin akan prestasi sepak bola di kancah dunia. Sepak bola memang hobinya sejak kecil, namun waktu SD ayahnya tidak mengijinkan Vino untuk mengikuti SSB (Sekolah Sepak Bola). Akhirnya dia hanya bermain sepak bola bersama tim kampungnya. Dari kecil dia sudah sering mengikuti pertandingan sepak bola antar kampung. Dan saat kelas 2 SMP, ayahnya memberikan ijin kepada Vino untuk mengikuti SSB di kampungnya. Namun ternyata belajar menjadi seorang pesepakbola professional tidaklah mudah. Banyak teman-temannya ynag sudah belajar sepak bola dari kecil di SSB dan mereka lebih mahir daripada Vino. Vino lebih sering mengisi bangku cadangan saat timnya bertanding. Itu berlangsung sangat lama dan membuat Vino frustasi. Untuk kelas SSB kampung saja dia gagal bersaing apalagi untuk tingkat nasional pikirnya. Akhirnya dia memutuskan diri untuk keluar dari SSB sekaligus mengakhiri mimpinya untuk menjadi seorang pesepakbola professional. 
“Mimpi”, kali ini menjadi menjadi bahan renungan panjang bagi Vino. Sekarang dia sudah hampir lulus SMA. Dan dia benar-benar kehilangan akal untuk bermimpi kembali. Dia takut untuk bermimpi kembali. Saat SMA dia hanya mencoba mengikuti apa yang diarahkan oleh orang tuanya. Namun Vino benar-benar tidak beruntung, orang tua Vino tidak tahu apa yang sebenarnya dimiliki oleh Vino. Mereka tidak tahu apa kemampuan Vino sesungguhnya. Pada akhirnya, segala sesuatu yang dilakukan oleh Vino saat itu  terasa seperti dipaksakan. Tidak ada yang sesuai dengan kata hatinya. Hambar dan mencengkam. Dan ketika itu, muka muram serta sikap tajam menyelimuti hatinya. Mimpi bukanlah hal yang penting lagi baginya. Kini, mimpi sudah tidak bisa diandalkan lagi. Dan ini membuat dia menyadari bagaimana seharusnya orang bermimpi.


Untuk hanya bermimpi saja tidak cukup. Semua orang bisa berangan-angan dan bermimpi. Namun, sedikit dari mereka yang bisa mewujudkan mimpinya tersebut. Memang semua berawal dari mimpi. Namun, itu hanya sebagai awal. Untuk seterusnya usaha dan doa yang harus berperan hidup. Usaha dan doa pun juga tidak cukup, namun man jadda wa jadda juga sangat dibutuhkan. Siapa yang sungguh-sungguh, pasti dia akan berhasil. Jadi seperti itulah penilaian Vino dengan apa yang disebut dengan “MIMPI”. 

Thursday, 17 April 2014

Demi Keindahan Mereka

Apa yang akan kalian lakukan ketika jalan ini sudah menemui kebimbangan. Antara pilihan kanan atau pilihan kiri yang sebenarnya sama-sama mengarah pada masa depan.
Seperti itulah yang sedang aku renungkan saat ini. Dua jalan yang sebenarnya bukan menjadi pilihanku. Tetapi, takdir berkata aku harus memilih satu diantara dua hal itu. Dalam hati kecil akupun ingin menangisi semua ini. Berharap ada keajaiban dari Tuhan yang kian menghampiri.
Dari dulu, aku selalu berdoa. Memohon untuk masa depan. Entah sudah sampai mana doa itu terbang. Yang pasti, aku akan selalu berdoa dan terus menunggu hingga tombol berbunyi membawaku bersama awan menembus keindahan.
“Berharap”
Setiap orang pasti memiliki harapan. Banyak yang berharap dan memohon, kembalikan aku ke masa kecilku agar aku bisa menghapus segala kesalahan yang ada pada diriku. Dan akhirnya yang ditemui adalah sia-sia. Dan mereka mulai bertanya “mengapa? Mengapa aku sekarang seperti ini? Tolong aku!”.
Dari kata hati.
Dari kata hati aku bisa melihat siapa aku ini sebenarnya. Darimana aku ini sebenarnya. Seperti apa aku ini sebenarnya. Dan mengapa aku jadi seperti ini sebenarnya. Ketika semua itu berjalan sesuai kata hati. Itupun tak akan menjamin keindahan.  
Kata mereka.
Dari mereka aku bisa menjadi apa yang mereka pikirkan. Aku bisa menjadi apa yang mereka inginkan. aku bisa menjadi apa yang mereka cita-citakan. Namun, itu juga taka akan menjamin keterpurukan. Itu juga tak akan menjamin keindahan.
Lalu dimana dan bagaimana aku meraih keindahan?
Keindahan di masa depan. Ketika kebiasaan dan lingkungan melawan untuk melihat keindahan. Sampai saat ini aku terus berjuang. Menggapai apa itu yang dinamakan dengan keindahan. Dengan mengikuti arus air yang mengalir. Yang setiap langkah penuh kepalsuan. Yang setiap langkah penuh dengan kata mereka. Jarang ada yang menuruti kata hati. Mungkin mereka yang teguh mampu berbicara. Namun mereka yang mudah goyah enggan mengerti lagi apa itu keindahan. Kepalsuan dunia telah mengalahkan. Dan mereka akan memegang masa depan.
Mengapa arus airku seperti ini?
 Dalam rintihan akupun akan terus berjalan mengikuti arus ini. Dan tangan akan selalu aku kepalkan. Erat menjunjung impian. Walau itu demi mereka, bukan demi hati ini. Karena aku tahu mereka lebih membutuhkan aku dan akupun tak menyesal apa yang akan terjadi pada hatiku. Yang aku cemaskan adalah keindahan. Aku takut tak sanggup menggapai keindahan. Mereka yang telah menunggu lama diriku. Aku tak ingin mereka kecewa.


 Dari ombak, duri, dan batuan ini. Akan kuterjang tanpa putus harapan. Dengan iringan doa aku berjalan. Hilangkan segala keburukan dan tanamkan segala kebaikan-Mu Ya Tuhan.  Demi mereka, mereka yang mengerti aku dari hari pertaMa aku ada. Yang memiliku sepenuhnya. Yang selalu aku dengarkan. Mereka adalah orang tuaku.

Friday, 4 April 2014



Ketika generasi tak mampu berdiri
Hanya imbangi bumi dengan amarah
Satu dua tumbuh merekah
Hilang arah di saat yang salah

Karena waktu berputar
Dan mereka semakin pintar
Mengukir dunia semak belukar
Tanpa warna bunga mawar

Tanduskah untuk masa depan
Apa yang akan mereka lakukan
Pertanyaan besar untuk kenyataan
Bagaimana bumi mendapat pangkuan

Tolong jangan hancurkan
Ini demi kita juga
Berikan bumi pelangi mawar merah
Positif diri untuk mengubah

Mereka yang tua hanya berharap
Dalam kenyataan kita menghadap
Sebuah ironi di masa depan


Mari kita tentukan!!!

Monday, 3 March 2014

Teteskanlah air mata
Ketika itu bisa membuat senyum diri
Pejamkan mata bukalah hati
Biarkan nurani yang bernyanyi

Ketika ombak menjadi jalan
Dan membuat kita tenggelam
Hanyut tinggalkan jejak
Perlahan memudar tinggal harapan

Kecil menjadi kesayangan
Harapan besar menjadi tuan
Namun liku dunia yang mematahkan
Mengiris hati merobek impian

Tuhan semoga bukan itu
Jalan hidup yang kauberikan padaku
Aku tak ingin mereka menangis
Dengan warisan yang perlahan habis

Gagal bukan berarti musnah
Gali inspirasi dengan terarah
Selama bernyawa kita pasti bisa

Ombak pun ada penghabisan
Tinggal bagaimana cara untuk melangkah
Yakinkan dunia..
Bahwa kita bukanlah sampah

 @SKrisdiantoro